Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang, Ini Pesan Hendi

Aksi teatrikal dalam Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang, Senin(14/10/19).
Aksi teatrikal dalam Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang, Senin(14/10/19).

SEMARANG – Suara dentuman meriam dan rentetan senjata menggema di sekitaran kawasan Tugu Muda, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (14/10/19) malam.

Sejumlah pemuda berlarian menghadang para tentara Jepang. Meski hanya bersenjatakan bambu runcing, mereka tidak gentar melawan penjajah yang membawa senjata api.

Ribuan pemuda bangsa pun gugur dalam pertempuran tersebut. Isak tangis terdengar dari keluarga yang ditinggalkan.

“Bojoku, bojoku, bojoku,” ungkap seorang ibu sembari menangis melihat jasad suaminya yang gugur melawan tentara jepang.

Itulah sedikit cuplikan teatrikal Pertempuran antara pemuda Kota Semarang saat melawan para tentara Jepang.

Drama teatrikal yang ditampilkan untuk mengenang peristiwa bersejarah yakni Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Peristiwa itu terjadi pada 14 Oktober hingga 19 Oktober 1945. Pada saat itu, Jepang enggan menyerahkan senjatanya pasca Proklamasi Kemerdekaan. Sehingga, terjadilah perlawanan antara pemuda Kota Semarang dan para tentara Jepang.

Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang diawali dengan upacara. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, menjadi inspektur upacara dan diikuti oleh para TNI, Polri, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Semarang, para taruna, dan siswa-siswi Kota Semarang.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengajak seluruh peserta upacara sekaligus masyarakat Kota Semarang untuk bersyukur atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan terdahulu.

Peringatan ini diharapkan bisa menumbuhkan semangat para generasi muda untuk membangun ibu pertiwi.

“Semoga kita mampu menjadi peran terbaik untuk meneruskan perjuangan para pahlawan. Bersyukur di era kemerdekaan, perjuangannya bukan mengangkat senjata tapi memberikan solusi yang harus diselesaikan misal kemiskinan, penanganan rob, dan banjir,” kata Hendi, sapaan akrabnya.

Menurutnya, tanggal 14 Oktober 1945 memberikan gambaran pertempuran sengit antara pemuda dan penjajah. Pertempuran lima hari di Semarang adalah bukti semangat juang dan pengorbanan menyala dalam diri pejuang negara.

“Ini perlu diteladani bersama kemudian diimplementasikan dengan mengisi dan mempertahankan negara agar semakin maju dan hebat. Harapannya Kita semakin solid bergerak bersama membangun Indonesia,” pungkasnya. (ZP/06)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here