Pemprov Jateng Genjot Serapan Bahan Baku Lokal

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jateng Sujarwanto saat ditemui di Kantor BPS Provinsi Jateng di Semarang, Senin (16/7).

SEMARANG- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan mengoptimalkan bahan baku asli Indonesia, untuk melakukan produksi barang ekspor. Pasalnya, saat ini 82% bahan baku industri di Jateng masih Impor dari luar negeri.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jateng Sujarwanto menuturkan, para pengusaha di Jawa Tengah saat ini sedang dipacu untuk menggunakan bahan baku lokal untuk memenuhi kebutuhan produksi.

“Kami dadi Pemprov sedang mendorong para pengusaha untuk menggunakan bahan baku asli Jateng, hal itu semata-mata untuk mengurangi impor bahan baku yang kini semakin membengkak,” katanya Selasa (17/7).

Menurutnya, perekonomian di Jateng sedang begeliat. Hal ini terbukti dengan pembangunan infrastruktur yang merata di sejumlah daerah, yang mengakibatkan tumbuhnya ekonomi tiap daerah.

Selain itu lanjut dia, kebijakan investasi yang diambil oleh Pemprov juga memudahkan pengusaha dalam melakukan kepengurusan izin usaha. Ini yang menjadikan Jaten menjadi magnet kuat dalam memikat investor.

“Naiknya angka impor Jateng tak serta-merta membuat ekonomi tumbuh melambat. Karena kebanyakan barang yang diimpor adalah bahan baku yang digunakan untuk membuat suatu produk,” ucapnya.

Lebih lanjut Sujarwanto menuturkan, Pemprov juga telah memetakan beberapa lokasi yang akan dibangun sebuah kawasan industri baru. Sehingga diharapkan para investor semakin tertarik menanamkan modal di Jawa Tengah.

“Kami sudah memetakan beberapa potensi daerah yang akan dibangun kawasan industri, dengan harapan perekonomian di Jateng terus tumbuh dan memberikan dampak nyata untuk masyarakat.

Sementara itu, Kepala BPS Provinsi Jateng Margo Yuwono mengatakan,  untuk negara pemasok barang impor terbesar ke Jawa Tengah selama periode Januari-Juni 2018 adalah Tiongkok, Arab Saudi, dan Nigeria dengan nilai impor kumulatif Januari-Juni 2018 masing masing sebesar US$1.776,14 juta, US$1.190,51 juta, dan US$495,63 juta.

“Pangsa pasar ketiga negara tersebut mampu mencapai 50,34% terhadap total impor ke Jawa Tengah periode Januari-Juni 2018. Jateng masih mengandalkan Arab Saudi, Tiongkok dan Nigeria untuk mendapatkan bahan baku,” ujarnya

Margo menambahkan, lmpor Jawa Tengah dari kawasan ASEAN pada periode Januari-Juni 2018 mencapai US$776,88 juta atau berkontribusi sebesar 11,29% terhadap total impor Jawa Tengah Januari-Juni 2018. Impor dari negara-negara kawasan Uni Eropa pada periode Januar-Juni 2018 tercatat sebesar US$159,01 juta (2,31%).

Sedangkan impor Jawa Tengah dari kawasan negara-negara utama lainnya (9 negara) menyumbang peranan sebesar 66,39% terhadap total impor Jawa Tengah, dengan nilai impor sebesar US$4.566,54 juta.

Produk mineral, tekstil dan barang tekstil, serta mesin dan pesawat mekanik, merupakan tiga kelompok komoditas yang mempunyai kontribusi tertinggi terhadap impor Jawa Tengah.

“Selama periode Januari-Juni 2018, kontribusi komoditas tersebut masing-masing sebesar 40,50%, 15,37% dan 14,62% terhadap total impor Jawa Tengah. Nilai impor untuk ketiga kelompok komoditas ini pada bulan Juni 2018 masing-masing sebesar US$453,74 juta, US$129,72 juta, dan US$150,59 juta,” pungkasnya. (ZP/05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here