Cuaca Buruk, Nelayan di Jateng Diimbau Tak Nekat Melaut

Ilustrasi/istimewa.

SEMARANG – Nelayan diminta tak nekat melaut saat cuaca buruk. Sebagai gantinya, mereka diminta memanfaatkan bekal ketrampilan dan usaha sampingan, selama musim baratan, yang telah diberikan pemerintah.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng Fendiawan Tiskiantoro mengatakan, pihaknya tetus melakukan koordinasi terkait informasi cuaca buruk. Informasi itu pun disampaikan kepada nelayan, bukan saja imbauan tertulis namun juga melalui media sosial.

“Informasi terkait kondisi cuaca, angin dan tinggi gelombang kepada nelayan sudah kami sampaikan kepada paguyuban nelayan, pemilik kapal, dan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia,” ujarnya, saat konferensi pers di Gedung A Lantai 1 Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (15/1/2020).

Fendiawan tak menampik cuaca buruk mempengaruhi aktivitas nelayan untuk melaut. Sebanyak 171.064 nelayan di provinsi ini atau sekitar 80 persen tak melaut saat cuaca buruk. Hal itu juga berpengaruh pada hasil tangkapan ikan nelayan yang mengalami penurunan sebesar 40 persen.

Mengingat cuaca ekstrem terjadi setiap tahun, sebagai bentuk diversifikasi selama musim paceklik nelayan, DKP telah melakukan berbagai pelatihan kepada nelayan. Antara lain, pelatihan pembuatan bioflok (pembuatan kolam ikan dengan terpal), Pemberdayaan Wanita Nelayan dan Pemberdayaan Wanita Pesisir. Tujuannya, untuk menambah nilai tambah ekonomi keluarga, saat musim ombak tinggi memaksa nelayan tak melaut.

“Pemberdayaan Wanita Nelayan, dilakukan dengan memberi pelatihan kepada istri-istri nelayan terkait pengolahan ikan menjadi abon dan sebagainya. Sifatnya kelompok,” tuturnya.

Ia mencontohkan, program tersebut pada tahun lalu dilakukan di Pelabuhan Perikanan Pantai (P3) Tawang Kendal dan Logending Kebumen. Selain pemberian pelatihan, adapula pemberian bantuan berupa kotak pengawet ikan atau coolbox. Selain pemberian keterampilan, beberapa daerah memberikan bantuan berupa beras bagi nelayan.

Ditambahkan, bentuk perlindungan lain bagi nelayan, juga diberikan dalam bentuk asuransi. Sejak 2019 lalu Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah meluncurkan program Asuransi Nelayan. Pada 2019 telah diberikan 10.000 kuota bagi nelayan. Hal serupa juga akan diberikan tahun ini, di mana asuransi ditargetkan menyasar 10 ribu nelayan.

“Tahun ini juga akan ada bantuan Premi asuransi nelayan (BPAN) dari kementrian Kelautan dan Perikanan, sebanyak 11.500 nelayan. Sedangkan pada tahun lalu, program ini menyasar 8.374 nelayan,” terang Fendiawan.

Program penanganan masa paceklik nelayan diakui pula oleh Kepala Seksi Nelayan, DKP Kendal, Jasmani. Selain pemberian ketrampilan bagi istri nelayan, pihaknya mengarahkan para nelayan untuk memanfaatkan budidaya ikan.

“Kalau untuk nelayan (laki-laki) kita beri ketrampilan budidaya lele atau kerang. Jadi ketika musim tak bersahabat datang mereka bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan uang tambahan,” terangnya saat dihubungi melalui telepon.

Memang, dari sekitar 9.595 nelayan, baru 10 persen yang mengikuti program. Selain minat dari nelayan, keterbatasan anggaran juga menjadi aral. Kendati begitu pihaknya terus berupaya meningkatkan kepesertaan melalui kerja sama dengan berbagai pihak, serta menyeleksi nelayan yang benar-benar berminat.

“Maka dari itu, kami didik orang yang mau dan mampu. Harapannya, ketika ada contoh dari yang sudah berhasil yang lain akan mengikuti,” pungkasnya. (ZP/06)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here