Ekonomi BisnisIni Dua Faktor Masih Maraknya Investasi Bodong

Ini Dua Faktor Masih Maraknya Investasi Bodong

-

- Advertisment -spot_img

Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L Tobing.

SEMARANG- Penghimpunan dana masyarakat atau kegiatan usaha yang tidak punya izin otoritas dari mana pun masih saja terjadi. Penghimpunan dana ilegal atau investasi bodong itu dapat merugikan masyarakat.

Baru-baru ini satuan tugas penanganan dugaan tindakan melawan hukum di bidang penghimpunan dana masyarakat dan pengelolaan investasi (Satgas waspada investasi) kembali menghentikan 98 entitas investasi yang beroperasi tanpa izin alias ilegal pada Agustus 2018.

Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L Tobing mengatakan, ada dua faktor yang menyebabkan investasi bodong tersebut masih banyak ditemukan dan tumbuh kembali sesudah dihentikan.

“Pertama data investasi bodong meningkat karena ada transparansi di satgas. Ketika ada laporan dari masyarakat kita segera merespon sehingga muncul ke permukaan.
Kedua karena kemajuan teknologi informasi membuat orang mudah menawarkan melalui website, media sosial dan lainya. Kondisi inilah yang membuat para pelaku banyak melakukan kegiatan itu,” ujarnya, Jumat (24/8).

Dikatakan, saat ini investasi bodong lebih banyak ditemukan di kota-kota besar karena pelaku beranggapan bahwa di kota besarlah tempatnya transaki uang dalam jumlah besar.

“Kebanyakan di kota besar Jabodetabek, Surabaya, Bandung yang jadi sasaran mereka. Mereka mengganggap peredaran uang di kota itu besar. Dan di Jateng (investasi bodong) juga banyak,” jelasnya.

Dikatakan, masyarakat harus waspada dan selalu berhati-hati jangan mudah tergiur dengan iming-iming imbalan besar. Masyarakat pun harus berpikir logis agar tidak mudah tertipu.

“Masyarakat harus waspada jangan mudah tergiur tawaran-tawaran investasi yang datang, karena masyarakat ini hanya dimanfaatkan pelaku. Masyarakat harus lihat dua hal yakni legalitas dan logis,” terangnya.

Ia menyebut, akibat investasi ilegal, kerugian yang harus ditanggung dari tahun 2007 hingga 2017 sudah mencapai Rp 105,8 triliun. “Itu baru yang terdeteksi, ada juga yang tidak lapor, jadi potensi kita waspadai,” pungkasnya. (ZP/05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Pertamina Dex dan Dexlite, Idola Baru Pengguna Mesin Diesel

SEMARANG – Sejak diluncurkan beberapa tahun lalu, Dexlite dan Pertamina Dex menjadi bahan bakar minyak (BBM) favorit bagi para...

Hotel Santika Pekalongan dapatkan Score Memuaskan dalam surveilen II

PEKALONGAN - Hotel Santika Pekalongan merupakan salah satu hotel yang terletak di Kota Pekalongan. Lokasi yang tepat berada di...

BCA Resmikan Gedung Halo BCA Semarang

SEMARANG– Konsistensi PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dalam menghadirkan service excellence terus ditingkatkan melalui berbagai inisiatif secara nasional....

Smartfren dan Moratel Hadirkan Layanan Internet True QuadPlay

JAKARTA – Smartfren bersinergi dengan Moratel menghadirkan produk terbaru bernama True QuadPlay sebagai layanan internet untuk gaya hidup digital...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Pembelian Tiket KA untuk Keberangkatan Mulai 26 Oktober Wajib Gunakan NIK

SEMARANG - Calon pelanggan yang akan membeli tiket kereta api jarak jauh untuk keberangkatan mulai 26 Oktober 2021 wajib...

Marimas dan Pemkot Semarang Bangun Taman Parkour di Lamper Tengah

SEMARANG - Dalam upaya mendukung Program Pemerintah Kota Semarang meningkatkan Ruang Terbuka Hijau, PT. Marimas Putera Kencana turut terlibat...

Must read

Akhir 2021, Dafam Buka 2 Hotel Baru SEMARANG- Pandemi tidak...

Grab Hadirkan Protect dan Cleaning Station

  SEMARANG- Wacana untuk masuk dalam 'kebiasaan baru' atau yang...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Berita TerkaitTERKINI
Rekomendasi untuk Anda