Kementerian Koperasi dan UKM Dorong Mahasiswa UPGRIS Berani Ambil Resiko Membuka Usaha

Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Koperasi dan UKM, Prakoso BS, dalamĀ acara Talk Show Kewirausahaan se-Jawa Tengah, di UPGRIS, Kamis (19/4).

SEMARANG- Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mendorong mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) agar berani mengambil resiko saat membuka usaha dan tidak perlu berpikir terlalu mendalam soal peraturan-peraturan usaha.

Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Koperasi dan UKM, Prakoso BS mengatakan, mahasiswa harus berani dan konsisten memulai usahanya dan tidak perlu takut, karena yang terpenting adalah timbulnya jiwa wirausaha terlebih dahulu.

“Saya berharap mahasiswa yang ikut sosialisasi wirausaha ini, mereka bisa konsisten memulai usaha, enggak usah takut apa itu usaha, yang dia suka, dikerjakan dulu. Wanita biasanya suka bikin-bikin sesuatu, dicoba jual aja dulu. Enggak usah berpikir yang ruwe-ruwet, lakukan saja,” kata Prakoso, dalam acara Talk Show Kewirausahaan se-Jawa Tengah, di UPGRIS, Kamis (19/4).

Dijelaskan, saat memulai usaha, perasaan malu juga harus ditinggalkan terlebih dahulu jika ingin sukses, serta mahasiswa pun harus optimis usahanya akan berkembang dan sukses.

“Saya berharap setelah ini banyak yang membuka usaha, misalkan mau jual sarapan, bulpoin atau apa saja. Karena dengan mulai usaha jiwanya sudah berani ambil resiko rugi. Rasa malu boleh tapi bukan saat berdagang, dan kekurangan kita itu cuma kurang berani saja,” ucapnya.

Ia melanjutkan, setelah usaha sudah terbentuk, para pengusaha pemula tersebut baru melakukan pencatatan keuangannya, mulai modal dan berapa jumlah uang yang masuk agar ada laporannya.

“Saya ingatkan setiap usaha yang diperlukan adalah pencatatan keuangan yang baik, jadi dicatat modal dan untung ruginya. Karena inilah ketika kita pinjam ke bank, kita jadi tidak punya laporan,” ungkapnya.

Selain itu, kata dia mahasiswa juga perlu memberikan pengertian ke orang tua jika saat ini telah punya usaha.

“Harus kasih pengertian ke orang tua, kalau kita punya usaha, kebanyakan kan diem-diem, setelah berhasil baru kasih tahu,” tandasnya. (ZP/05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here