Meski Miliki Keterbatasan, Dua Guru ini Terus Semangat Mengabdikan Dirinya

Toni Supriyanto, ia dipercaya menjadi guru pengajar keterampilan di SLBN Semarang. Ia pun sangat senang bisa mengabdikan diri berbagi pengetahuan di sekolah tersebut.

SEMARANG- Meski memiliki keterbatasan pada bagian pendengaran, tidak menjadikan Tono Supriyanto dan Intihariyanti, untuk tetap semangat mengabdikan diri menjadi seoarang guru di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Semarang.

Keduanya bangkit dan berjuang membuktikan diri, bahwa dengan keterbatasan tidak harus putus asa dan mengharap belas kasih orang lain.

Saat ini, Toni Supriyanto, dipercaya menjadi seorang guru pengajar keterampilan. Sedangkan Intihariyanti, dipercayai untuk menjadi guru kelas.

Toni Supriyanto mengatakan, ia telah dipercaya mengajar sejak tahun 2013. Namun, sebelum dipercaya memberikan pengetahuannya itu, ia bercerita sempat diminta mengajar selama satu minggu, yang kemudian dilihat sejauh mana kemampuannya memberikan pengetahuan kepada siswa-siswi SLBN Semarang. Alhasil berkat kerja keras dan keseriusan, ia pun diterima dan mengajar hingga sekarang.

“Selama satu minggu itu, banyak yang mengamati pekembangan saya dalam komunikasi kepada murid yang sama-sama tuna rungu. Dan karena saya bisa pakai bahasa isyarat saat komunikasi ke siswa-siswi yang lancar, sehingga saya bisa mengajar hingga sekarang,” kata Toni Supriyanto, Rabu (25/4).

Ia mengungkapkan, menjadi guru memang hal berat. Apalagi, harus memberikan pengetahuan kepada siswa-siswi yang sama-sama memiliki keterbatasan. Meski demikian, ia mengaku tetap semangat karena ingin memajukan para siswa-siswi agar menjadi percaya diri dan bisa mendapatkan kehidupan yang sejahtera.

“Saya sangat senang bisa mengabdikan diri untuk sekolah dan menyumbang ilmu kepada murid agar bisa bekerja, bisa menjadi murid yang produktif dan mandiri,” ujarnya.

Intihariyanti, ia kini menjadi seorang guru kelas di SLBN Semarang. Ia bertekad untuk terus semangat menjadikan siswa-siswinya menjadi lebih percaya diri.

Sementara, Intihariyanti, mengungkapkan ia terus semangat dan berjuang agar muridnya bisa cerdas dan diterima masyarakat. Ia pun memberikan pengajaran tentang bagaimana tata krama yang baik kepada orang lain dan berharap muridnya menjadi lebih percaya diri.

“Tujuan mengajar agar anak-anak bisa mengerti tata krama, kalau mau pergi harus izin, masuk kelas salam pada guru. Ini untuk membiasakan hidup benar, dan membuat anak-anak tidak minder, harus percaya diri,” ucapnya.

Ia berharap, para siswa-siswi itu pun ke depannya bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, serta bisa hidup sejahtera dan diterima masyarakat dengan baik. (ZP/05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here