KNPI Jateng Deklarasi Pemilu Damai Anti Hoax, SARA dan Money Politic

Para pemuda dalam kegiatan deklarasi pemuda peduli pemilu damai, anti hoax, SARA dan money politic di halaman Gedung Outdetrap kawasan Kota Lama, Semarang, Sabtu (29/12).

SEMARANG- DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Jawa Tengah melakukan deklarasi pemuda peduli pemilu damai, anti hoax, SARA dan money politic di halaman Gedung Outdetrap kawasan Kota Lama, Semarang, Sabtu (29/12).

Ketua DPD KNPI Jawa Tengah, Tino Indra Wardono mengatakan, KNPI sebagai wadah berhimpunya Organisasi Kepemudaan (OKP) berkomitmen menyukseskan hajat bersama negara, yakni Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilihan Legislatif (Pileg) 17 April 2019 mendatang.

“Tadi, kami dari pemuda lintas agama, lintas parpol sudah berikrar ingin wujudkan Pemilu bebas dari hoax, ujaran kebencian, politisasi SARA dan terbebas dari praktek money politic,” katanya.

Menurut Tino, sejauh ini kondisi Jawa Tengah relatif kondusif, tidak ada problem yang berarti. “Meski demikian, kita harus tetap waspada dan jaga bersama. Kita (KNPI Jateng) berkomitmen terus menjaga kebhinekaan dan persatuan,” ucapnya.

Gubernur Jawa Tengah yang diwakili Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Jawa Tengah, Urip Sihabudin meminta kepada peserta pemilu, masayarat, utamanya generasi muda bisa cerdas dan arif dalam menggunakan media sosial (medsos).

Di era teknologi informasi (IT), kata dia medsos memang mampu menjadi sarana yang efektif dalam melakukan sosialisasi (kampanye).

“Saya juga meminta kalian semakin dewasa dalam berpolitik. Pilihlah pemimpin yang memiliki kapasitas, kredibilitas, integritas serta gagasan besar untuk menyelesaikan persoalan bangsa dan memajukan bangsa,” pungkasnya.

Sementara itu, Komisioner KPU Jawa Tengah Divisi Perencanaan dan Logistik, Ikhwanuddin mengemukakan, pasca reformasi tren partisipasi pemilih di setiap gelaran pemilu cenderung menurun bila dibandingkan sebelum reformasi.

Sebagaimana data di KPU Jateng, partisipasi pemilih di Jawa Tengah tertinggi terjadi pada Pemilu 1955 sebesar 91% dan Pemilu 1999 sebesar 92%.

“Tingginya  partisipasi tersebut juga secara kualitatif, artinya memilih karena benar-benar kesadaran dari masing-mading individu, bukan mobilisir masa, karena iming-iming sesuatu dan lainya,” ujarnya.

Dilanjutkan, partisipasi Pemilu terakhir di Jawa Tengah pun hanya 68%, belum sesuai  tarjet partisipasi secara nasional yakni 77,5%.

Dia berharap dengan adanya partisipasi masyarakat, utama pemuda yang dipelopori KNPI, partisipasi pemilih di Jateng bisa sesuai target nasional.

“Memang disetiap helatan Pemilu kadang masih diwarnai dengan hoax, politisasi SARA dan money politic. Dengan seruan moral dari pemuda-pemuda ini bisa hilang atau bisa diminimalisir,” harapnya. (ZP/07)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here